BOGOR — Keterbatasan ekonomi tidak seharusnya menjadi batas bagi anak-anak untuk memiliki cita-cita. Berangkat dari persoalan tersebut, mahasiswa IPB University menghadirkan HEROISM, sebuah program pengabdian kepada masyarakat yang dirancang untuk membantu anak-anak pemulung membangun orientasi masa depan dan berani merancang kehidupan yang mereka impikan.
Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-PM) tersebut dilaksanakan bersama Paguyuban Rumah Belajar Anak Cimangir Ilir, yang berlokasi di Kampung Cimangir Ilir RT 02 RW 04, Desa Dukuh, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor.
HEROISM hadir dari keprihatinan terhadap kondisi anak-anak yang tumbuh dalam keluarga dengan keterbatasan ekonomi. Bagi sebagian anak pemulung, sekolah tidak selalu menjadi ruang untuk mengembangkan cita-cita. Tekanan ekonomi keluarga dapat membuat mereka dihadapkan pada pilihan antara melanjutkan pendidikan atau membantu orang tua memperoleh penghasilan.
Situasi tersebut berpotensi membuat anak memandang pekerjaan yang dijalani orang tuanya sebagai satu-satunya pilihan masa depan. Kesempatan untuk mengenali potensi diri, mengeksplorasi cita-cita, serta mengetahui berbagai pilihan profesi pun menjadi terbatas.
Dalam psikologi perkembangan, kondisi tersebut berkaitan dengan konsep identity foreclosure, yakni keadaan ketika seseorang menerima identitas atau pilihan hidup tanpa melalui proses eksplorasi yang memadai. Kondisi ini dapat membuat orientasi masa depan anak menjadi lebih sempit.
Menggabungkan Self-Regulated Learning dan Possible Selves
Melalui HEROISM, mahasiswa IPB University mengintegrasikan pendekatan Self-Regulated Learning yang dikembangkan antara lain oleh Zimmerman dan Schunk dengan teori Possible Selves dari Markus dan Nurius.
Pendekatan tersebut digunakan untuk membantu anak mengenali kemampuan dirinya, membayangkan masa depan yang diharapkan, memahami masa depan yang ingin dihindari, serta menyusun tujuan dan strategi untuk mencapai cita-cita.
Program ini menyasar 15 anak pemulung berusia 8–13 tahun, yang terdiri atas tujuh anak laki-laki dan delapan anak perempuan.
Pelaksanaan HEROISM diawali dengan sosialisasi program kepada mitra, kemudian dilanjutkan dengan pre-test dan Training of Trainers (ToT) bagi pengurus Paguyuban Rumah Belajar Anak Cimangir Ilir.
Kegiatan ToT menjadi salah satu bagian penting dalam menjaga keberlanjutan program. Melalui kegiatan tersebut, pengurus mitra mendapatkan pembekalan agar dapat melanjutkan proses pendampingan anak secara mandiri setelah rangkaian program mahasiswa selesai.
Empat Tahapan HEROISM
HEROISM dikemas dalam empat subprogram yang dilaksanakan secara bertahap, yaitu HERO ASA, HERO AKSI, HERO RASA, dan HERO KARSA.
Pada tahap HERO ASA, anak-anak diajak mengenali potensi, minat, serta cita-cita mereka. Kegiatan dilakukan melalui pengisian Kartu Asa, menggambar identitas diri, berbagi cerita, hingga pendampingan bersama orang tua.
Tahap ini menjadi ruang awal bagi anak untuk menyadari bahwa dirinya memiliki potensi dan berbagai kemungkinan masa depan.
Selanjutnya, HERO AKSI mengajak peserta mengeksplorasi berbagai profesi. Anak-anak mendapatkan pengalaman melalui video inspiratif, roleplay, pengisian Kartu Misi, serta pembuatan gantungan kunci bertema profesi impian.
Melalui aktivitas tersebut, peserta diperkenalkan pada beragam pilihan karier sekaligus didorong untuk memahami bahwa cita-cita dapat diperjuangkan melalui pendidikan, keterampilan, dan usaha.
Belajar Mengenal Diri dan Merancang Masa Depan
Tahapan berikutnya adalah HERO RASA, yang berfokus pada proses refleksi diri. Peserta mengisi lembar citra diri, mempresentasikan hasil refleksi, serta menyusun Kartu Refleksi dan Kartu Harapan Masa Depan.
Pada tahap ini, anak-anak diajak melihat kembali potensi dan harapan mereka. Pendidikan diperkenalkan sebagai salah satu jembatan penting untuk membuka kesempatan dalam mewujudkan cita-cita.
Rangkaian program kemudian ditutup melalui HERO KARSA. Pada tahap ini, peserta menyusun Life Map, membuat Kartu Komitmen, mendeklarasikan komitmen, serta mengikuti post-test.
Melalui Life Map, anak-anak tidak hanya diajak untuk memiliki mimpi, tetapi juga mulai memikirkan langkah-langkah konkret yang dapat dilakukan untuk mencapai masa depan yang mereka inginkan.
Mendorong Kolaborasi untuk Keberlanjutan
Keberlanjutan menjadi salah satu perhatian utama dalam pelaksanaan HEROISM. Karena itu, tim mahasiswa membangun kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk akademisi, pemerintah, komunitas, dan media.
Kolaborasi tersebut diharapkan dapat memperluas dampak program sekaligus mendukung keberlanjutan proses pendampingan anak-anak di Paguyuban Rumah Belajar Anak Cimangir Ilir.
Melalui HEROISM, mahasiswa IPB University ingin menunjukkan bahwa setiap anak memiliki hak untuk memiliki cita-cita dan kesempatan untuk merancang masa depannya.
Keterbatasan ekonomi bukanlah alasan untuk membatasi mimpi. Dengan mengenali potensi diri, berani mengeksplorasi berbagai pilihan profesi, serta memiliki tujuan dan strategi yang jelas, anak-anak pemulung diharapkan mampu memandang pendidikan bukan sekadar aktivitas di ruang kelas, tetapi sebagai salah satu jalan untuk membuka peluang kehidupan yang lebih baik.
HEROISM menjadi langkah kecil untuk menumbuhkan keberanian anak-anak dalam bermimpi, sekaligus membangun keyakinan bahwa masa depan dapat diperjuangkan.




